Powered By Blogger

Minggu, 23 November 2014

STRAIGHT NEWS* Obesitas Bukan Penghalang Proses Belajar

Yogyakarta- Sabtu (22/11), Bagi Nico Yoga Pradista mahasiswa semester 1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), berat badan bukanlah suatu pengahalang seseorang untuk meraih prestasi belajar yang baik. Prestasi belajar didapatkan dari niat dan usaha yang maximal.

“Kegemukan/obesitas itu bukanlah penghalang dalam meraih prestasi belajar. Seperti saya ini tante, walaupun kondisi dibilang abnormal, saya tetap bisa melakukan proses belajar dengan baik tanpa bermalas-malasan,” kata Niko dengan gaya kocaknya sewaktu di kelas PGSD. Dia menuturkan kebanyakan orang menilai kegemukan adalah faktor penghambat proses belajar dalam meraih prestasi. Kondisi seperti itu mengakibatkan orang akan lebih bermalas-malasan dalam belajar karena ruang untuk beraktivitas dalam dirinya sulit.

Termasuk ketika masih duduk dibangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), ia mendapatkan 5 besar nilai tertinggi Ujian Praktek di sekolahnya. “Gemuk kurus itu bukan mempengaruhi kepandaian seseorang, namun niat dan usaha yang menjadi faktor keberhasilan kita,” tambah Niko dengan logat Yogyanya.

Obesitas yang dialaminya tidak pernah digubris olehnya, karena hal ini telah terjadi sejak masa sekolah dasarnya. Hingga saat ini berat badan Nico mencapai 80 kg dengan tinggi badan 160 cm, tanpa ia sadari. Kondisi ini melebihi batas normal perhitungan, yaitu kelebihan 30 kg. Niko mencoba untuk berusaha mengurangi berat badannya dengan diet dan olahraga teratur, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Walaupun begitu, Niko tidak pernah malu dengan kondisinya saat ini. Dia sangat bersyukur dan bahagia atas pemberian dari Tuhan. “Saya sangat bersyukur atas kondisi kegemukan saat ini,” kata Niko.

“Janganlah seperti spion yang menghadap ke belakang, tapi jadilah mata yang selalu tajam melangkah ke depan,” prinsip yang dituturkan Niko. Dia mengartikan, segala sesuatu harus lebih maju dengan kondisi apapun dan jangan seperti spion yang selalu melihat masa lalu yang buruk. Prinsip itu ia tanamkan sejak kecil hingga di bangku kuliah dengan kondisi badan yang abnormal.

“Sebuah prestasi itu tidaklah dilihat dari kondisi berat badan,” ungkap Pijar Fajriyanto mahasiswa semester 1 PGSD UST yang memiliki berat badan ideal.  Pijar mengungkapkan kondisi badan tidak mempengaruhi psikologi perkembangan belajar seseorang, namun niat, usaha, dan doa yang sangat menentukan keberhasilan. Ia menambahkan dengan berat badan idelanya ia mampu melakuakan proses belajar dengan baik.

Minggu, 15 Desember 2013

ODE UNTUK PENGABDIAN

Hidup bagaikan sebuah perjalanan. Banyak cara memaknai hidup. Beberapa orang melaluinya dengan melakukan kegiatan melayani dan mengabdi sesama. Mengalokasikan waktu, tenaga, pikiran, juga biaya demi memberi makna pada kehidupannya. Pilihan yang tak banyak orang mau lakukan.
Semangat juang untuk terus berbagi selalu dimiliki Achmad Budi Santoso. Saat usianya 6 tahun dia harus kehilangan satu kakinya. Pria kelahiran 4 Juli 1990 lalu ini harus rela kehilangan kaki kanannya akibat kecelakaan terlindas kereta lori atau kereta pengangkut tebu. Sejak tahun 2011, dengan ditemani satu tongkat, ia mengabdi sebagai relawan Rumah Zakat. Budi menjabat sebagai Koordinator Senyum Juara Bidang Pendidikan. Tak hanya sebagai relawan, Budi  juga  berprestasi di bidang olahraga. Sebagai relawan khususnya di bidang pendidikan, Budi kerap memberi motivasi kepada para pelajar. Baginya fisik tidak menjadi halangan untuk terus meraih cita-cita, terlebih lagi bagi mereka yang berfisik utuh. Berbagai kegiatan sosial dilakukan Budi tanpa pamrih, baginya, bisa bermanfaat bagi orang lain adalah suatu kebahagiaan.
Berbagi tak hanya dapat diwujudkan melalui materi, tapi juga bisa diwujudkan dengan berbagi waktu, tenaga, dan pikiran. Adalah Rini Hanifah. Setelah 5 tahun berkecimpung berkarir di LSM, Rini memutuskan untuk menjadi seorang relawan. Ia merasa tertantang untuk melakukan hal lebih. Ia ingin merasakan langsung kesulitan dan tantangan hidup di daerah miskin dengan infrastruktur terbatas. Bulan Mei 2011, di bawah bendera VSO, sebuah LSM internasional - Rini menjadi Professional Volunteer asal Indonesia yang ditempatkan di Guyana, Amerika Selatan. Ia tinggal di desa Moco-moco yang terletak di sepanjang Gunung Kanuku, dan tergabung dalam organisasi bernama KMCRG atau Kanuku Mountain Community Representative Groups, dengan jabatan Agriculture Development Advisor. Di Guyana, perempuan lulusan Institute Pertanian Bogor ini memberikan pelatihan pertanian organik ke 152 petani di 8 kampung. Tugasnya antara lain memberikan pelatihan komputer & internet, pelatihan organisasi, community development, dan facilitation skill, membuat kebun percontohan dan memanfaatkan lahan savana selama dua musim. Bersama dengan konsultan dan manager KMCRG mengembangkan proposal. Kini perempuan yang konsisten melakukan kegiatan sosial ini bekerja disebuah LSM di Papua. Rini selalu percaya kebahagiaan datang dimulai dari kepuasan diri.
Kompleks pendidikan anak usia dini, PAUD, di kampung Kentheng Silir, Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo Jawa Tengah kini riuh rendah dengan suara anak-anak usia balita dengan aktifitas belajar bersama guru-guru mereka. Itulah PAUD dan pusat kegiatan belajar masyarakat  PKBM Ar Ridho gagasan pasangan suami istri Sarjoko dan Natalis Pujiani. Lahir dan hidup dalam stigma negatif Silir yang dikenal sebagai pusat lokalisasi di Kota Surakarta membuat Sarjoko tergerak untuk melakukan perubahan. Di kampung kelahirannya tersebut, ia mengajak pelaku prostitusi untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai PSK dan belajar berbagai keterampilan, seperti memasak, menjahit, membuat aksesoris, dll, sehingga mereka lebih mandiri. Mengubah cara pikir dan kebiasaan warga lokalisasi Silir dan sekitarnya bukanlah hal mudah. Perjuangan yang terus menerus dilakukan tanpa kenal menyerah, meski harus melawan preman lokal yang berkuasa di lokalisasi, akhirnya berbuah manis. Sedikit demi sedikit kesadaran masyarakat mulai tumbuh. Tak hanya pendidikan untuk anak anak saja, berbagai pelatihan untuk warga, terutama mantan PSK, maupun mantan mucikari di lokalisasi silir dan sekitarnya telah mendukung program PKBM ini. Manfaat yang langsung terasa, apa yang dilakukan Sarjoko dan Natalis pujiani bersama warga ‘eks lokalisasi’ Silir, bukan hal kecil bagi Kota Solo. Kerelaan berbuat dan pengorbanan menjadi kunci untuk memberi makna pada masyarakat. Berkat Sarjoko, Silir telah bertransformasi menjadi kampung belajar, dan tak lagi dikenal sebagai wilayah lokalisasi.
Sumber : http://www.kickandy.com/theshow/1/1/2584/read/ode-untuk-pengabdian
Dipublikasikan :Jumat, 20 Desember 2013 10:25 WIB
diakses : Senin, 16 Desember 2013 14:59 WIB