Yogyakarta- Sabtu (22/11), Bagi Nico Yoga Pradista mahasiswa semester 1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), berat badan bukanlah suatu pengahalang seseorang untuk meraih prestasi belajar yang baik. Prestasi belajar didapatkan dari niat dan usaha yang maximal.
“Kegemukan/obesitas itu bukanlah penghalang dalam meraih prestasi belajar. Seperti saya ini tante, walaupun kondisi dibilang abnormal, saya tetap bisa melakukan proses belajar dengan baik tanpa bermalas-malasan,” kata Niko dengan gaya kocaknya sewaktu di kelas PGSD. Dia menuturkan kebanyakan orang menilai kegemukan adalah faktor penghambat proses belajar dalam meraih prestasi. Kondisi seperti itu mengakibatkan orang akan lebih bermalas-malasan dalam belajar karena ruang untuk beraktivitas dalam dirinya sulit.
Termasuk ketika masih duduk dibangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), ia mendapatkan 5 besar nilai tertinggi Ujian Praktek di sekolahnya. “Gemuk kurus itu bukan mempengaruhi kepandaian seseorang, namun niat dan usaha yang menjadi faktor keberhasilan kita,” tambah Niko dengan logat Yogyanya.
Obesitas yang dialaminya tidak pernah digubris olehnya, karena hal ini telah terjadi sejak masa sekolah dasarnya. Hingga saat ini berat badan Nico mencapai 80 kg dengan tinggi badan 160 cm, tanpa ia sadari. Kondisi ini melebihi batas normal perhitungan, yaitu kelebihan 30 kg. Niko mencoba untuk berusaha mengurangi berat badannya dengan diet dan olahraga teratur, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Walaupun begitu, Niko tidak pernah malu dengan kondisinya saat ini. Dia sangat bersyukur dan bahagia atas pemberian dari Tuhan. “Saya sangat bersyukur atas kondisi kegemukan saat ini,” kata Niko.
“Janganlah seperti spion yang menghadap ke belakang, tapi jadilah mata yang selalu tajam melangkah ke depan,” prinsip yang dituturkan Niko. Dia mengartikan, segala sesuatu harus lebih maju dengan kondisi apapun dan jangan seperti spion yang selalu melihat masa lalu yang buruk. Prinsip itu ia tanamkan sejak kecil hingga di bangku kuliah dengan kondisi badan yang abnormal.
“Sebuah prestasi itu tidaklah dilihat dari kondisi berat badan,” ungkap Pijar Fajriyanto mahasiswa semester 1 PGSD UST yang memiliki berat badan ideal. Pijar mengungkapkan kondisi badan tidak mempengaruhi psikologi perkembangan belajar seseorang, namun niat, usaha, dan doa yang sangat menentukan keberhasilan. Ia menambahkan dengan berat badan idelanya ia mampu melakuakan proses belajar dengan baik.
“Kegemukan/obesitas itu bukanlah penghalang dalam meraih prestasi belajar. Seperti saya ini tante, walaupun kondisi dibilang abnormal, saya tetap bisa melakukan proses belajar dengan baik tanpa bermalas-malasan,” kata Niko dengan gaya kocaknya sewaktu di kelas PGSD. Dia menuturkan kebanyakan orang menilai kegemukan adalah faktor penghambat proses belajar dalam meraih prestasi. Kondisi seperti itu mengakibatkan orang akan lebih bermalas-malasan dalam belajar karena ruang untuk beraktivitas dalam dirinya sulit.
Termasuk ketika masih duduk dibangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), ia mendapatkan 5 besar nilai tertinggi Ujian Praktek di sekolahnya. “Gemuk kurus itu bukan mempengaruhi kepandaian seseorang, namun niat dan usaha yang menjadi faktor keberhasilan kita,” tambah Niko dengan logat Yogyanya.
Obesitas yang dialaminya tidak pernah digubris olehnya, karena hal ini telah terjadi sejak masa sekolah dasarnya. Hingga saat ini berat badan Nico mencapai 80 kg dengan tinggi badan 160 cm, tanpa ia sadari. Kondisi ini melebihi batas normal perhitungan, yaitu kelebihan 30 kg. Niko mencoba untuk berusaha mengurangi berat badannya dengan diet dan olahraga teratur, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Walaupun begitu, Niko tidak pernah malu dengan kondisinya saat ini. Dia sangat bersyukur dan bahagia atas pemberian dari Tuhan. “Saya sangat bersyukur atas kondisi kegemukan saat ini,” kata Niko.
“Janganlah seperti spion yang menghadap ke belakang, tapi jadilah mata yang selalu tajam melangkah ke depan,” prinsip yang dituturkan Niko. Dia mengartikan, segala sesuatu harus lebih maju dengan kondisi apapun dan jangan seperti spion yang selalu melihat masa lalu yang buruk. Prinsip itu ia tanamkan sejak kecil hingga di bangku kuliah dengan kondisi badan yang abnormal.
“Sebuah prestasi itu tidaklah dilihat dari kondisi berat badan,” ungkap Pijar Fajriyanto mahasiswa semester 1 PGSD UST yang memiliki berat badan ideal. Pijar mengungkapkan kondisi badan tidak mempengaruhi psikologi perkembangan belajar seseorang, namun niat, usaha, dan doa yang sangat menentukan keberhasilan. Ia menambahkan dengan berat badan idelanya ia mampu melakuakan proses belajar dengan baik.

